Kamis, 09 Juni 2011

Deden Muhammad Makhyaruddin Juara MTQ Internasional di Maroko

Qari Deden Muhammad Makhyaruddin mengharumkan nama Indonesia dengan berhasil meraih juara satu pada Musabaqah Tahfiz, Tajwid, dan Tafsir Al-Quran (MTQ) Internasional untuk kategori bergengsi lomba hafalan Qur’an 30 juz dan tafsirnya dalam memperebutkan Piala Raja Mohammed VI ke-6, yang diadakan pada 4-7 Februari 2011 di Casablanca, Maroko.
MTQ tersebut memperlombakan dua kategori, yaitu tilawatil Qur’an dan hafalan Qur’an 30 juz dan tafsirnya. MTQ diikuti oleh 52 peserta dari 34 negara dan 10 hakim juri dari berbagai negara Islam. Indonesia pada tahun ini mengirimkan delegasi yang terdiri dari 3 orang, yaitu Syarifuddin Ahmad (Ketua Delegasi), Deden Makhyaruddin, dan Muhammad Siddik bin Syafii.
Usai pengumuman pemenang, Duta Besar RI didampingi staf menerima delegasi di Wisma Duta dan menyampaikan ucapan selamat atas capaian yang diraih yang tentunya akan menambah harumnya nama bangsa Indonesia.
Sebelumnya, pada Jum’at 4 Februari 2011, Dubes RI Tosari Widjaja didampingi PF. Pensosbud dan staf menghadiri undangan pembukaan MTQ tersebut yang bertempat di Masjid Hassan II Casablanca Maroko yang dibuka langsung oleh Menteri Wakaf dan Urusan Islam Ahmed Toufik dan dihadiri oleh Sekjen Majlis Ilmi A’la Maroko, Gubernur Casablanca, ulama-ulama Maroko serta para duta besar negara muslim sahabat, para dewan juri dan seluruh peserta musabaqah.
Prestasi Qari Indonesia pada MTQ ini, adalah untuk yang kedua kalinya, setelah Qari Irham Dongoran berhasil meraih juara II untuk jenis lomba yang sama pada tahun 2010.
MTQ diselenggarakan atas intruksi Raja Mohammed VI yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 2005 yang menghadirkan peserta dari negara-negara mayoritas penduduk beragama Islam, dan Indonesia selalu menerima undangan dan ikut serta setiap tahunnya.
Sumber: Deplu (KBRI Rabat)

Qari Indonesia Juara Satu pada MTQ Internasional di Maroko

Rabu, 09 Februari 2011
 
Qari Indonesia, Deden Muhammad Makhyaruddin berhasil meraih juara satu, untuk kategori bergengsi lomba hafalan Qur’an 30 juz dan tafsirnya, pada Musabaqah Tahfiz, Tajwid, dan Tafsir Al-Quran (MTQ) Internasional memperebutkan Piala Raja Mohammed VI ke-6, yang diadakan pada 4-7 Februari 2011, di Casablanca, Maroko.

MTQ tersebut memperlombakan dua kategori, yaitu tilawatil Qur’an dan hafalan Qur’an 30 juz dan tafsirnya. MTQ diikuti oleh 52 peserta dari 34 negara dan 10 hakim juri dari berbagai negara Islam. Sedang Indonesia pada tahun ini mengirimkan delegasi yang terdiri dari 3 orang, yaitu Syarifuddin Ahmad (Ketua Delegasi), Deden Makhyaruddin dan Muhammad Siddik bin Syafii.

Usai pengumuman pemenang, Duta Besar RI didampingi staf menerima delegasi di Wisma Duta dan menyampaikan ucapan selamat atas capaian yang diraih yang tentunya akan menambah harumnya nama bangsa Indonesia.

Sebelumnya, pada hari Jum’at 4 Februari 2011 Dubes RI Tosari Widjaja didampingi PF. Pensosbud dan staf menghadiri undangan pembukaan MTQ tersebut yang bertempat di Masjid Hassan II Casablanca Maroko yang dibuka langsung oleh Menteri Wakaf dan Urusan Islam Ahmed Toufik dan dihadiri oleh Sekjen Majlis Ilmi A’la Maroko, Gubernur Casablanca, ulama-ulama Maroko serta para duta besar negara muslim sahabat, para dewan juri dan seluruh peserta musabaqah.

Prestasi Qari Indonesia pada MTQ ini, adalah untuk yang kedua kalinya, setelah Qari Irham Dongoran berhasil meraih juara II untuk jenis lomba yang sama pada tahun 2010.

MTQ diselenggarakan atas intruksi Raja Mohammed VI yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 2005 yang menghadirkan peserta dari negara-negara mayoritas penduduk beragama Islam, dan Indonesia selalu menerima undangan dan ikut serta setiap tahunnya.

Qori Indonesia Juara MTQ Internasional

Inpasonline, 9/2/11
Casablanca-Deden Muhammad Makhyaruddin berhasil meraih juara satu kategori bergengsi lomba hafalan Quran 30 juz dan tafsirnya pada Musabaqah Tahfiz, Tajwid, dan Tafsir Al-Quran (MTQ) Internasional di Kairo.
MTQ ke-6 yang memperebutkan Piala Raja Mohammed VI itu diselenggarakan di Casablanca, Maroko.“MTQ diikuti oleh 52 peserta dari 34 negara memperlombakan dua kategori, yaitu tilawatil Quran dan hafalan Quran 30 juz dan tafsirnya,” kata Sekretaris III/Pelaksana Fungsi Pensosbud KBRI Maroko Rahmat Azhari dalam keterangan persnya yang diterima ANTARA London, Rabu.
Dewan juri MTQ itu terdiri atas 10 hakim dari berbagai negara Islam. Dalam lomba tersebut Indonesia mengirimkan delegasi yang terdiri atas tiga orang yaitu Syarifuddin Ahmad sebagai ketua delegasi, Deden Makhyaruddin dan Muhammad Siddik bin Syafii.
Usai pengumuman pemenang, Duta Besar RI Tosari Widjaja didampingi staf menerima delegasi di Wisma Duta dan menyampaikan ucapan selamat atas capaian yang diraih yang tentunya menambah harumnya nama bangsa Indonesia.
MTQ digelar dari tanggal 4 hingga 7 Februari 2011, Dubes RI Tosari Widjaja didampingi PF. Pensosbud dan staf ikut menghadiri acara pembukaan bertempat di Masjid Hassan II Casablanca Maroko.
Menteri Wakaf dan Urusan Islam Ahmed Toufik membuka MTQ yang dihadiri Sekjen Majlis Ilmi A-la Maroko, Gubernur Casablanca, ulama-ulama Maroko serta para duta besar negara muslim sahabat, para dewan juri dan seluruh peserta musabaqah.
Prestasi Qari Indonesia pada MTQ ini, adalah untuk yang kedua kalinya, setelah Qari Irham Dongoran berhasil meraih juara II untuk jenis lomba yang sama pada tahun 2010.
MTQ diselenggarakan atas intruksi Raja Mohammed VI yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 2005 yang menghadirkan peserta dari negara-negara mayoritas penduduk beragama Islam, dan Indonesia selalu menerima undangan dan ikut serta setiap tahunnya.

Sabtu, 04 Juni 2011

Negara Islam Indonesia

Negara Islam Indonesia (disingkat NII; juga dikenal dengan nama Darul Islam atau DI) yang artinya adalah "Rumah Islam" adalah gerakan politik yang diproklamasikan pada 7 Agustus 1949 (ditulis sebagai 12 Syawal 1368 dalam kalender Hijriyah) oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Gerakan ini bertujuan menjadikan Republik Indonesia yang saat itu baru saja diproklamasikan kemerdekaannya dan ada di masa perang dengan tentara Kerajaan Belanda sebagai negara teokrasi dengan agama Islam sebagai dasar negara. Dalam proklamasinya bahwa "Hukum yang berlaku dalam Negara Islam Indonesia adalah Hukum Islam", lebih jelas lagi dalam undang-undangnya dinyatakan bahwa "Negara berdasarkan Islam" dan "Hukum yang tertinggi adalah Al Quran dan Hadits". Proklamasi Negara Islam Indonesia dengan tegas menyatakan kewajiban negara untuk membuat undang-undang yang berlandaskan syari'at Islam, dan penolakan yang keras terhadap ideologi selain Alqur'an dan Hadits Shahih, yang mereka sebut dengan "hukum kafir", sesuai dalam Qur'aan Surah 5. Al-Maidah, ayat 50.[rujukan?]
Dalam perkembangannya, DI menyebar hingga di beberapa wilayah, terutama Jawa Barat (berikut dengan daerah yang berbatasan di Jawa Tengah), Sulawesi Selatan dan Aceh.[1] [2] Setelah Kartosoewirjo ditangkap TNI dan dieksekusi pada 1962, gerakan ini menjadi terpecah, namun tetap eksis secara diam-diam meskipun dianggap sebagai organisasi ilegal oleh pemerintah Indonesia.[3]

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Gerakan DI/TII Daud Beureueh

Pemberontakan DI/TII di Aceh dimulai dengan "Proklamasi" Daud Beureueh bahwa Aceh merupakan bagian "Negara Islam Indonesia" di bawah pimpinan Imam Kartosuwirjo pada tanggal 20 September 1953.
Daued Beureueh pernah memegang jabatan sebagai "Gubernur Militer Daerah Istimewa Aceh" sewaktu agresi militer pertama Belanda pada pertengahan tahun 1947. Sebagai Gubernur Militer ia berkuasa penuh atas pertahanan daerah Aceh dan menguasai seluruh aparat pemerintahan baik sipil maupun militer. Sebagai seorang tokoh ulama dan bekas Gubernur Militer, Daud Beureuh tidak sulit memperoleh pengikut. Daud Beureuh juga berhasil memengaruhi pejabat-pejabat Pemerintah Aceh, khususnya di daerah Pidie. Untuk beberapa waktu lamanya Daud Beureuh dan pengikut-pengikutnya dapat mengusai sebagian besar daerah Aceh termasuk sejumlah kota.
Sesudah bantuan datang dari Sumatera Utara dan Sumatera Tengah, operasi pemulihan keamanan ABRI ( TNI-POLRI ) segera dimulai. Setelah didesak dari kota-kota besar, Daud Beureuh meneruskan perlawanannya di hutan-hutan. Penyelesaian terakhir Pemberontakan Daud Beureuh ini dilakukan dengan suatu " Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh" pada bulan Desember 1962 atas prakarsa Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel Jendral Makarawong.

[sunting] Gerakan DI/TII Ibnu Hadjar

Pada bulan Oktober 1950 DI/ TII juga tercatat melakukan pemberontakan di Kalimantan Selatan yang dipimpin oleh Ibnu Hadjar. Para pemberontak melakukan pengacauan dengan menyerang pos-pos kesatuan ABRI (TNI-POLRI). Dalam menghadapi gerombolan DI/TII tersebut pemerintah pada mulanya melakukan pendekatan kepada Ibnu Hadjar dengan diberi kesempatan untuk menyerah, dan akan diterima menjadi anggota ABRI. Ibnu Hadjar sempat menyerah, akan tetapi setelah menyerah dia kembali melarikan diri dan melakukan pemberontakan lagi sehingga pemerintah akhirnya menugaskan pasukan ABRI (TNI-POLRI) untuk menangkap Ibnu Hadjar. Pada akhir tahun 1959 Ibnu Hadjar beserta seluruh anggota gerombolannya tertangkap dan dihukum mati.

[sunting] Gerakan DI/TII Amir fatah

Amir Fatah merupakan tokoh yang membidani lahirnya DI/TII Jawa Tengah. Semula ia bersikap setia pada RI, namun kemudian sikapnya berubah dengan mendukung Gerakan DI/TII. Perubahan sikap tersebut disebabkan oleh beberapa alasan. Pertama, terdapat persamaan ideologi antara Amir Fatah dengan S.M. Kartosuwirjo, yaitu keduanya menjadi pendukung setia Ideologi Islam. Kedua, Amir Fatah dan para pendukungnya menganggap bahwa aparatur Pemerintah RI dan TNI yang bertugas di daerah Tegal-Brebes telah terpengaruh oleh "orang-orang Kiri", dan mengganggu perjuangan umat Islam. Ketiga, adanya pengaruh "orang-orang Kiri" tersebut, Pemerintah RI dan TNI tidak menghargai perjuangan Amir Fatah dan para pendukungnya selama itu di daerah Tegal-Brebes. Bahkan kekuasaan yang telah dibinanya sebelum Agresi Militer II, harus diserahkan kepda TNI di bawah Wongsoatmojo. Keempat, adanya perintah penangkapan dirinya oleh Mayor Wongsoatmojo. Hingga kini Amir Fatah dinilai sebagai pembelot baik oleh negara RI maupun umat muslim Indonesia.
Pemerintah berencana membubarkan Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) dan anggotanya disalurkan ke masyarakat. Tenyata Kahar Muzakkar menuntut agar Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan dan kesatuan gerilya lainnya dimasukkan delam satu brigade yang disebut Brigade Hasanuddin di bawah pimpinanya. Tuntutan itu ditolak karena banyak di antara mereka yang tidak memenuhi syarat untuk dinas militer. Pemerintah mengambil kebijaksanaan menyalurkan bekas gerilyawan itu ke Corps Tjadangan Nasional (CTN). Pada saat dilantik sebagai Pejabat Wakil Panglima Tentara dan Tetorium VII, Kahar Muzakkar beserta para pengikutnya melarikan diri ke hutan dengan membawa persenjataan lengkap dan mengadakan pengacauan. Kahar Muzakkar mengubah nama pasukannya menjadi Tentara Islam Indonesia dan menyatakan sebagai bagian dari DI/TII Kartosuwiryo pada tanggal 7 Agustus 1953. Tanggal 3 Februari 1965, Kahar Muzakkar tertembak mati oleh pasukan ABRI (TNI-POLRI) dalam sebuah baku tembak.

Sejarah dan pergerakan NII al Zaytun KW9 faksi Panji Gumilang

"Saya mengelola usaha pengolahan sampah"
(Abu Maarik/Panji Gumilang/Abu Toto/Toto Salam/ASPG)
VIVAnews - Abu Maarik ternyata menyetorkan dananya langsung ke kantor pusat Bank CIC, di Fatmawati, Jakarta Selatan. Seorang mantan karyawan Bank CIC mengatakan, Abu Maarik datang sekitar setengah atau sebulan sekali menyetorkan duitnya ke bank milik Robert Tantular itu.

Bila dia datang, para teller pusing, karena harus menghitung uang receh sampai ratusan juta rupiah. Saat itu tidak ada ratusan ribu, adanya pecahan Rp50 ribu, Rp20 ribu, Rp10 ribu, dan pecahan-pecahan kecil. "Uangnya semuanya kucel," kata sumber VIVAnews.com, Selasa 3 April 2011.

Setiap kali datang, Abu Maarik menyetor hingga Rp200 juta. "Pada 1996, uang Rp200 juta sangat besar," katanya.

Dia menceritakan, Abu Maarik yang beralamat di Indramayu ini hanya mau dilayani seorang manajer di bank itu. Selain manajer, hanya Robert Tantular. "Dua orang itu saja," ujarnya.

Karena kantornya sempit, setiap kali Abu Maarik datang, selalu menjadi perhatian karyawan. Saat pembicaraan pun, sebagian karyawannya bisa mendengar.

Sumber ini menambahkan, karena penasaran dengan banyaknya uang yang disetor, dia sempat bertanya apa bisnis Abu Maarik. "Saya mengelola usaha pengolahan sampah," kata dia menirukan Abu Maarik.

Di CIC, Abu Maarik menjadi nasabah kelas kakap dengan simpanan miliaran rupiah. Sehingga sejumlah layanan pun diberikan cuma-cuma. Abu Maarik bisa meminjam uang ratusan juta atau bahkan miliaran rupiah dengan jaminan uang simpanan itu. "Fasilitas kredit back to back ini tidak diberikan kepada setiap nasabah."

Uang miliaran rupiah ini sebenarnya pernah tercium Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Pada rapat dengar pendapat dengan Pansus Century Dewan Perwakilan Rakyat, Ketua PPATK Yunus Huein mengatakan, ada simpanan sangat besar, yaitu Rp46,2 miliar milik Abu Maarik. Namun dia tak menjelaskan siapa Abu Maarik ini.

Ketua Tim Pengawas Kasus Bank Century di DPR Priyo Budi Santoso sempat mendesak pengusutan dana miliaran rupiah di Bank Century yang diduga milik jaringan Negara Islam Indonesia (NII). "Kami meminta dan mendesak aparat penegak hukum, termasuk Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) segera mengungkap dana itu," kata Priyo di Gedung DPR, Jakarta, Jumat, 29 April 2011.

Imam Supriyanto, mantan "menteri" NII yakin nama Abu Maarik itu tak lain Abu Toto alias Syeikh Panji Gumilang, pemimpin Pesantren Al Zaytun, Haurgeulis, Idramayu, Jawa Barat. "Wajah Abu Maarik ini mirip sekali dengan Panji Gumilang yang saya lihat di televisi. Bedanya, dulu masih kurus."

Abu Toto sendiri kepada wartawan tvOne Riga Danniswara, membantah bila dikaitkan dengan NII. Menurut Toto, perjuangan NII telah berakhir setelah Kartosoewiryo meninggal pada 5 September 1962. "Itu adalah fase turun gunung, semua kembali ke Ibu Pertiwi [pemerintahan Republik Indonesia]," ujar dia di kediaman pribadinya, di kompleks Mahad Al Zaytun, Jumat 29 April 2011.

Sources : Vivanews.com

Selasa, 03 Mei 2011

Makna Haji Bagi NII Gadungan

Prosesi melempar Jumrah (jumrah dengan duit, duit, dan duit)
Sources : vivanews.com

VIVAnews - Pengikut komunitas Negara Islam Indonesia (NII) memiliki cara sendiri untuk menunaikan ibadah haji. Dalam Islam, mereka yang menunaikan ibadah haji akan berangkat ke Tanah Suci Mekah di Arab Saudi. Tapi bagi NII, untuk naik haji cukup ke Indramayu, ke Pondok Pesantren Al Zaytun.

"Ibadah Haji dalam NII itu adalah perkumpulan NII dari seluruh Indonesia. Semua petinggi kumpul di Indramayu," kata Ken Setiawan, pendiri NII Crisis Center yang juga anggota NII sejak 2.000 sampai 2002, dalam perbincangan dengan VIVAnews.com, Kamis 28 April 2011.

Puncak ibadah haji dalam Islam jatuh pada 9 Zulhijah. Tapi dalam komunitas NII, puncak haji jatuh setiap tanggal 1 Muharram.

Dalam berhaji bagi Islam ada beberapa tahapan. Tahapan-tahapan itu antara lain, Tawaf atau tahapan berhaji dengan mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali.

"Kalau di NII, tawaf ini cukup berkeliling pondok pesantran Al Zaytun yang seluas 1.200 hektar. Saat naik haji di NII, kami ditunjukkan kebanggaan Al Zaytun dengan kata-kata, inilah Islam," kata Ken.

Kemudian, lanjut Ken, yang lebih aneh lagi saat proses lontar atau lempar jumrah. Saat naik haji dalam Islam, proses melempar jumroh dilakukan dengan melempar tujuh buah batu-batu kecil atau kerikil ke arah tiga tiang di kota Mina, Arab Saudi.

"Di NII, melempar jumrah itu dilakukan dengan tujuh buah sak semen. Menurut petinggi NII, kalau pakai kerikil, kapan Islam bisa maju," kata Ken. Tujuh buah sak semen itu tidak serta-merta dilempar di Al Zaytun, tetapi diwujudkan dalam bentuk uang. Berapa harga total dari tujuh sak semen itu.

Dari jumrah tujuh sak semen itu mengalir dana ratusan juta. Ada yang menyumbang lebih dari harga tujuh sak semen. "Saat ini NII masih dipimpin Panji Gumilang alias Abu Toto alias Abu Maarif. Posisi Panji Gumilang sebagai Presiden," kata Ken. (sj)


Video 1


Video2
Video lengkap Prosesi Melempar Jumroh NII Gadungan
Sources : Kaskus.us



Minggu, 01 Mei 2011

FUUI Tantang Panji Gumilang

K.H. Athian Ali M. Da'i, MA
Bandung - Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) menantang Panji Gumilang untuk dialog terbuka dengan para ulama. Tak hanya itu, pimpinan Pondok Pesantren Al Zaytun harus berani dikonfrontir dengan mantan pengikutnya, yang selama ini menyatakan Panji Gumilang adalah pimpinan NII KW 9.

"Sepuluh tahun lalu setelah saya bersama ulama lainnya menyatakan NII sesat, kami langsung mengundang Panji Gumilang dengan surat resmi yang dibawa orang khusus biar benar-benar sampai. Jangankan hadir untuk diskusi, menanggapi surat kami pun tidak," kata Ketua FUUI Athian Ali saat dihubungi melalui telepon, Minggu (1//5/2011).

Karena itu, Athian mengaku senang dengan kemunculan Panji Gumilang di berbagai media. Meski menurutnya apa yang disampaikan Abu Toto (nama lain Panji Gumilangg-red) tidak jelas, isinya mengambang.

"Dia tidak mengiyakan dan juga tidak menolak. Dia cukup hati-hati. Karena dia tahu kalau dia mengiyakan, dia akan hancur. Kalau menolak, dia tahu itu akan memancing saksi-saksi bekas bawahannya yang akan menentang ucapannya," ujar Athian.

Karena itu, Athian menantang Panji Gumilang untuk mau berdialog dengan para ulama terkait gerakan NII KW 9 yang diyakini Athian dipimpin oleh Panji. "Makanya hari ini kami berharap, dia mau kami ajak diskusi untuk membuktikan siapa yang berbohong," katanya.

Athian juga menyatakan akan menghadirkan para saksi mata yang dikumpulkan FUUI. Mereka adalah para mantan Anggota NII KW 9, di mana di antaranya merupakan mantan pejabat NII KW 9.

"Berani tidak dia dipertemukan? Tapi saya yakin dia tidak mau. Karena dia tahu apa yang kami tuduhkan pada dia selama ini adalah benar," tandas Athian.

Ketika ditanya apakah akan mengundang secara resmi? "Saya undang sekarang melalui media. Berani tidak?" tantang Athian.

Sebelumnya kepada wartawan Panji Gumilang menyatakan jika NII sudah tamat. Karena itu dia mengaku heran kenapa dia selalu dikaitkan dengan NII.

Senin, 04 April 2011

PAI (Pentas Agama Islam) Ke IV


Tim Nasyid salsabiila dipilih oleh Dinas untuk mewakili DKI Jakarta pada ajang PAI 4 
pada cabang Nasyid SMA/SMK se-Indonesia.
Kami membawakan 2 buah lagu, yang pertama lagu wajib "Nasyid Emang Asyik"
dan lagu kedua "Kudendangkan Sholawat",
kami tampil semaksimal mungkin agar mendapatkan hasil yang baik.
tapi mungkin karena kita kurang persiapan jadi kita tidak bisa masuk ke-10 besar.
Tapi mesti begitu kami sudah bersyukur bisa mewakili DKI Jakarta di kanca Nasional....
It's We Dream!!!!!!

Pentas PAI Kontingen NTT dan DKI.